Tantangan
Para Orang tua dalam mendidik Anak Millenial di Tengah Pandemi Covid-19
Teknologi
yang semakin maju dan perkembangan dunia digital yang semakin pesat ternyata
memberikan tantangan tersendiri bagi orang tua, ditambah lagi dengan adanya
situasi pandemi seperti sekarang ini yang
sudah sangat memakan waktu berbulan – bulan lamanya. Sehingga imbas dari Covid-19
ini berimbas ke segala sektor dan tak sedikit orang tua yang mengeluhkan
dampaknya, baik di perekonomian, pariwisata, pendidikan, dan lain sebagainya. Sebagai
orang tua, selain harus bisa menghadapi dampak dari imbas Covid-19 terutama di
masalah finansial, juga harus bisa mengikuti perkembangan teknologi karena
bagaimana pun pandemi covid-19 ini tidak bisa dipisahkan dari sistem pembelajaran
online yang harus dihadapi oleh anak-anak. Dengan adanya wabah yang berkembang
seperti sekarang ini, tak seorang pun dapat memprediksi kapan wabah ini akan
berakhir dan mau tidak mau para orang tua pun harus dapat menyesuaikan dan mengikuti metode pembelajaran yang dianjurkan oleh pemerintah guna mencegah penyebaran virus agar tidak menyebar lebih luas lagi.
Berikut
ini beberapa tantangan para orang tua dalam mendidik Anak di tengah pandemi Covid
– 19:
1. Anak - Anak tidak belajar melalui interaksi Tatap Muka Langsung.
Ketika Pandemi Covid-19 mulai masuk ke
Indonesia, sekitar pertengahan bulan Maret yang lalu, pemerintah Pendidikan dan
Kebudayaan pun akhirnya mengambil kebijakan awal untuk memberlakukan sistem PJJ
(Pembelajaran Jarak jauh), dimana anak-anak dikembalikan ke orang tua dan
dibimbing oleh gurunya melalu media pembelajaran online. Hal ini berlangsung
hampir 3.5 bulan lamanya, tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolah, terlebih
lagi saat diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dalam hal ini
anak selama 24 jam nonstop bersama orang tuanya di rumah. Sebagian besar,
penugasan sekolah yang diberikan oleh gurunya pun harus dikirim melalui
aplikasi online atau media sosial lainnya. Dengan begitu, kebanyakan orang tua mengeluh
dalam menangani dua bahkan tiga tugas sekaligus yang harus dikerjakan secara bersamaan. Sementara itu, belum lagi ditambah dengan pekerjaan rumah yang seambreg – ambreg, sehingga menyita banyak
waktu dan tenaga yang tercurahkan. Dengan kondisi dan situasi seperti itu, anak-anak pun banyak yang mengeluhkan jika belajar online tidak maksimal, dan tak jarang si anak merasa lebih nyaman ketika belajar bersama gurunya secara tatap langsung di kelas.
2. Kemampuan
Anak dalam membaca menurun.
Tuntutan para orang tua Ketika anaknya
memasuki Pendidikan awal adalah menuntut para peserta didik baru untuk dapat
membaca. Hal ini pun berdampak yang sangat signifikan, dimana ketersediaan waktu
dan perhatian dalam mengajari membaca pun dirasakan masih kurang maksimal. Terlebih
– lebih jika ada Kakaknya yang juga harus menyelesaikan pembelajaran online,
tak terasa dengan otomatis level ketegangan pun semakin bertambah karena tuntutan
penugasan yang harus dikirimkan dalam waktu yang telah ditentukan. Hal ini pun
akhirnya membuat orang tua semakin bertambah stress, emosional dan tingkat
kemarahan pun bisa lebih meluap– luap. Dengan kesibukan meng-handle pembelajaran online dan pekerjaan rumah seacara bersamaan tersebut, membuat
para orang tua kurang telaten atau sabar dalam menghadapi dan mengajari anak – anaknya membaca.
Sehingga hal ini harus disikapi dengan bijak oleh para orang tua agar lebih bisa
mengontrol emosinya, sehingga dalam pengajaran mandiri di rumah bisa lebih mengena dan tentu harus memperhatikan mood anak. Para orang tua harus bisa melihat kondisi psikologis anak, kapan waktu moodnya untuk belajar, sehingga tidak diperbolehkan apabila ada orang tua yang memaksakan kehendaknya terhadap anaknya untuk menyelesaikan tugasnya dengan sikap kasar apalagi dengan marah - marah.
3.
Anak
– Anak lebih sering berinteraksi dengan Gadget.
Di era digital dan internet yang semakin
mudah diakses, di sadari secara langsung bahwa waktu anak – anak kita lebih
sering dihabiskan di dunia maya saja ketimbang berinteraksi secara nyata di
lingkungan rumah. Permainan online yang semakin beragam dan dapat dimainkan
anak kapan saja dan dimana saja membuat pola sikap anak yang pasif, mudah
mengambek jika tidak diperbolehkan para orang tuanya dalam memainkannya. Hal
ini menjadi tantangan tersendiri oleh para orang tua untuk mencari solusi
terbaik agar anak – anak tidak kecanduan gadget secara berlebihan. Buat kesepakatan bersama anak tentang waktu kapan mereka diperbolehkan main gadget, karena dengan mereka diarahkan tentunya akan membuat mereka paham akan nilai positif dan negatif dari bermain gadget.
4.
Anak
– anak butuh waktu lebih untuk didampingi.
Kesibukan para orang tua pun juga menjadi salah
satu kendala dalam mendidik anak-anak, terutama bagi mereka yang berkarir. Tantangannya
bagi para orang tua karir adalah bagaimana mengatur waktu agar bisa membagi waktu
di sela – sela kesibukannya. Rutinitas yang sangat sibuk menyebabkan anak
jarang mendapatkan perhatian, alih – alih untuk masa depan agar dapat memenuhi
kebutuhan anak agar dapat terpenuhi segala kebutuhannya, namun tidak disadari
oleh para orang tua, justru hal ini
menjadi boomerang bagi perkembangan anak – anak di masa mendatang. Banyak orang
tua kadang merasakan agak kesulitan dalam waktu mendampingi anaknya. Permasalahan
ini dapat diatasi jika para orang tua menyadari bahwa perhatian dan bimbingannya
lebih utama demi terbentuknya sikap dan tingkah laku yang baik untuk anak –
anak kedepannya, sehingga hal ini perlu dibicarakan baik – baik, tidak hanya
dengan pasangan untuk dapat meluangkan waktu bersama dengan anak – anak. Melainkan
juga dikomunikasikan dengan baik tentang quality time bersama -sama di
waktu tertentu, sehingga anak – anak pun bisa paham dengan rutinitas orang
tuanya dan menghargai orang tua, tidak malah mebangkang atau pun menyebabkan salah
faham.

No comments:
Post a Comment